Selasa, 20 Oktober 2009


PANCEG DINA JALUR : UJUNGBERUNG REBELS

Oleh Kimung

artikel asli :
http://kimun666.multiply.com/journal/item/9/Panceg_Dina_Jalur--Ujungberung_Rebels

Ujungberung adalah sebuah
kota kecamatan di
bandung
bagian paling timur. Daerah ini berada pada ketinggian 668 m di atas
permukaan laut, berbatasan dengan Kecamatan Cibiru di timur, Kecamatan
Arcamanik di barat, Kecamatan Cilengkrang Kabupaten Bandung di utara,
dan Kecamatan Arcamanik di Selatan. Kecamatan Ujungberung mempunyai
luas wilayah 1.035,411 Ha, dengan jumlah penduduk 67.144 jiwa. Sejak
dulu, Ujungberung terkenal sangat kental dengan seni tradisionalnya,
terutama seni bela diri benjang, pencak silat, angklung, bengberokan,
dan kacapi suling.
Kultur
kesenian rupanya tak lekang dari generasi muda Ujungberung walau
Ujungberung kemudian dibom oleh kultur industri. Daya eksplorasi
kesenian yang tinggi membuat tipikal seniman-seniman muda Ujungberung
terbuka terhadap segala pengaruh kesenian. Salah satu yang kemudian
berkembang pesat di Ujungberung selain seni tradisional adalah musik
rock/metal.

Ujungberung 1990
Masih
tak jelas kapan rock/metal masuk ke Ujungberung. Agaknya, sejak booming
Guns n Roses, Metallica, dan Bon Jovi di Indonesia, Ujungberung tak
ketinggalan tren ini. Walau dalam kondisi yang sangat terbatas beberapa
gelintir kaum muda Ujungberung membentuk band dan memainkan lagu-lagu
band rock favorit mereka. Di kalangan komunitas Ujungberung Rebels
sekarang, Kang Koeple (kakak Yayat-produser Burgerkill) dan Kang Bey
(kakak Dani-Jasad) bisa disebutkan sebagai generasi awal pemain band
rock di Ujungberung. Pertengahan tahun 1980an hingga awal 1990an,
mereka memainkan lagu-lagu rock semacam Deep Purple, Led Zeppelin,
Queen, dan Iron Maiden selain juga menciptakan lagu sendiri.
Era ini kultur panggung yang berkembang Ujungberung, dan juga di
Bandung,
adalah kultur festival. Band tandang-tanding di sebuah festival musik
dan band yang menang akan masuk dapur rekaman. Kita mungkin masih ingat
Rudal Rock Band, salah satu band rock yang lahir dan sukses dari kultur
ini. Saat itu saya masih kelas
lima
SD
ketika tercengang-cengang melihat penampilan pemain bass-nya yang
membetot dawai bass penuh energi. Mirip Cliff Burton. Sejak itu saya
bercita-cita menjadi seorang pemain bass dan memainkan musik metal
sekencang-kencangnya!
Agaknya
ketercengangan yang sama menginspirasi generasi adik-adik Kang Koeple
dan Kang Bey untuk mendirikan band. Tahun 1990 di Ujungberung, Yayat
mendirikan Orthodox bersama Dani, Agus, dan Andris. Orthodox memainkan
:: supri-online.com - Music and Photography Journal ::
http://www.supri-online.com Powered by Joomla! Generated: 21 October, 2009, 12:14
Sepultura album Morbid Vision dan Schizophrenia. Sementara itu di
Ujungberung sebelah barat, Sukaasih, berdiri Funeral dan Necromancy.
Funeral digawangi AamVenom, Uwo, Iput. Mereka memainkan lagu-lagu
Sepultura, Napalm Death, Terrorizer. Sementara itu, Necromancy
memainkan lagu-lagunya Carcass dan Megadeth. Band ini dua kali merombak
personilnya berdasarkan musik yang mereka mainkan. Era crossover
Necromancy terdiri dari Dinan (Vox), Oje (gtr), Aria (bass), Punky
(dr). Era metal terdiri dari Dinan (vox), Oje (gtr), Andre (gtr), Boy
(bass), Punky (Dr). Andre kini kital kenal sebagai gitaris Full of Hate.
Di
Ujungberung sebelah timur, tepatnya di daerah Cilengkrang I,
Tirtawening, berdiri Jasad yang digawangi Yulli, Tito, Hendrik, Ayi.
Mereka membawakan lagu-lagu Metallica dan Sepultura. Pertama kali saya
melihat Jasad ketika saya kelas 2 SMP ketika mereka manggung di sebuah
festival rock di Alun-alun Ujungberung. Masih terkenang bagaimana
Alun-alun dipenuhi pemuda gondrong berstelan hitam-hitam. Ingar bingar
menghajar atmosfer sore itu. Jasad memainkan lagu Metallica saat itu
dan untuk kedua kalinya saya tercengang melihat penampilan band rock.
Sementara itu, di Cilengkrang II kawasan Manglayang, berdiri band
Monster yang membawakan heavy metal ciptaan sendiri dengan motor
gitaris Ikin, didukung Yadi, Abo, Yordan, Kenco, dan Kimung.
Yang
unik, perkenalan para pionir ini berawal dari tren anak muda saat itu :
main brik-brikan. Dinan (Necromancy) pertama kali kenal dengan Uwo-Agus
(Funeral) dari jamming brik-brikan. Pun di kawasan Manglayang.
Para
personil Monster adalah para pecandu brik-brikan. Mereka berbincang
mengenai musik, saling tukar informasi, dan akhirnya bertemu, membuat
band, dan membangun komunitas. Selain brik-brikan, faktor kawan
sesekolah juga menjadi stimulan terbentuknya sebuah band. SMP 1
Ujungberung—kini SMP 8 Bandung—menyumbangkan
Toxic—Addy-Ferly-Cecep-Kudung—yang merupakan cikal bakal dari
Forgotten. Band anak-anak SMP ini berdiri sekitar tahun 1991 atau 1992.
Addy kita kenal sebagai vokalis Forgotten. Sementara Ferly adalah
gitaris Jasad sekarang. Belum lagi band-band di SMA 1 Uungberung—kini
SMA 24 Bandung—yang tak tercatatkan saking banyaknya.
Yang
sangat mengagumkan di era ini adalah mereka telah memiliki radio
komunitas yang dibuat dan diurus sendiri. Radionya bernama Salam Rama
Dwihasta, di kawasan Sukaasih, berdiri tahun 1992 ketika metal semain
menggila di Ujungberung. Radio ini radio biasa, tapi memilki program
khusus lagu-lagu metal/death metal/grindcore. Nama programnya “Bedebah”
dan mengudara setiap sore. Ketika permetalan didominasi heavy metal,
“Bedebah”-nya Salam Rama Dwihasta sudah menggeber gelombang dengan
Napalm Death, Carcass, Terrorrizer, Morbid Angel. Dua penyiarnya adalah
Agung dan Dinan. Kabarnya, Dinan masih berseragam putih abu saat itu.
Di balik usia belia mereka, saya merasakan semangat luar biasa dari
para pionir ini dalam upaya menyebarkan musik metal di Ujungberung dan
Bandung.
Salut lur! Generasi ini juga tumbuh dalam kultur festival. Mungkin
selain festival, panggung kecil agustusan dan event-event sekolah
semacam kelulusan atau samen adalah ajang mereka berunjuk gigi.

Generasi Pendobrak : Homeless Crew dan Ujungberung Rebels
Kultur
festival yang dirasa kurang bersahabat membuat gerah segelintir musisi
muda. Dalam festival mereka harus memenuhui banyak syarat. Harus
memainkan lagu band anu-lah, harus jadi gini lah, jadi gitu lah,
pendeknya festival menuntut band untuk menampilkan wajah sama, bermanis
muka agar menang di depan sponsor atau produser. Hal itu memangkas
semangat ekspresi rock/metal juga semangat terdalam dan manusiawi dalam
diri seorang seniman untuk berkarya. Dengan kesadaran baru itu
:: supri-online.com - Music and Photography Journal ::
http://www.supri-online.com Powered by Joomla! Generated: 21 October, 2009, 12:14
gelintiran musisi muda Ujungberung maju dan merangsek jalanan.
Akhir
tahun 1993, muncul kekuatan baru dari Ujungberung. Masa ini berdiri
Studio Palapa, sebuah studio latihan musik milik Kang Memet yang
dikelola Yayat dan Dani (Orthodox). Studio ini kemudian menjadi kawah
candradimuka band-band Ujungberung hingga melahirkan band-band besar,
kru-kru yang solid, dan musisi-musisi jempolan. Studio Palapa juga yang
kemudian melahirkan rilisan-rilisan kaset pertama di
Indonesia.
Mereka merekam lagu-lagu dengan biaya sendiri, mendistribusikan
sendiri, melakukan semua dengan spirit Do It Yourself. Dari sepuluh
band independen di
Indonesia
yang tercatat Majalah Hai tahun 1995, tiga di antaranya berasal dari
Ujungberung. Mereka adalah Sonic Torment, Jasad, dan Sacrilegious.
Label dan perusahaan rekamanyang mereka kibarkan adalah Palapa Records.
Tahun
1995, di Ujungberung berdiri sebuah perkumpulan anak-anak metal
bawahtanah yang menamakan diri sebagai Extreme Noise Grinding (ENG).
Organisasi inilah cikal bakal segala dinamika Ujungberung Rebels,
hingga hari ini. ENG digagas para pionir seperti Yayat dan Dinan
sebagai wadah kreativitas anak-anak Ujungberung. Propaganda awal mereka
adalah membuat sebuah media sharing antar dan inter komunitas musik
metal bawahtanah berbentuk zine dengan nama Revograms. Zine ini
disebut-sebut sebagai zine pertama di komunitas musik bawahtanah dan
juga komunitas independen
Indonesia.
Revogram digagas Dinan dan dilaksanakan Tim Redaksi Revogram
beranggotakan Ivan, Kimung, Yayat, Dandan, Sule, Gatot. Propaganda
selanjutnya adalah membuat acara musik Bandung Berisik Demo Tour yang
lalu dikenal sebagai Bandung Berisik I. Di acara ini
lima belas band Ujungberung unjuk gigi, ditambah bintang tamu Insanity dari
Jakarta.
Hingga kini, Bandung Berisik tetap diusung masyaraat metal Ujungberung
selain tiga pergelaran khas Ujungberung lainnya, Death Fest, Rottrevore
Death Fest, dan Rebel Fest.
Setelah
Bandung Berisik, propaganda dilanjutkan dengan merencanakan sebuah
kompilasi band-band Ujungberung sebagai manifestasi atas eksistensi
komunitas. Kompilasi tersebut memuat 16 band metal Ujungberung dan
bertajuk Ujungberung Rebels. Kompilasi ini dirilis Musica dengan judul
Independen Rebels dengan nilai transaksi 14 juta tahun 1998. Namun
demikian, nama Ujungberung Rebels tak lantas pudar. Nama ini kemudian
menjadi identitas komunitas musik metal bawahtanah Ujungberung,
berdampingan dengan nama Homeless Crew yang merujuk pada
gaya hidup musisi Ujungberung yang hidup di jalanan dan bohemian.
Keuntungan
kompilasi Independen Rebels kemudian dijadikan modal mendirikan sebuah
distro yang menampung hasil kreativitas anak-anak Ujungberung dan
Indonesia
pada umumnya, oleh Yayat selaku produser. Distro yang lalu berdiri
bernama Rebellion, bertempat di jl. Rumah Sakit. Kabarnya, Rebellion
adalah distro kedua di
Indonesia
setelah Reverse Outfit. Belakangan,Rebellion pindah, bersinergi dengan
Pisces Studio. Pisces adalah studio milik Dandan ketika Kang Memet
akhirnya memutuskan menjual alat-alat band Studio Palapa, Februari 1997.
:: supri-online.com - Music and Photography Journal ::
http://www.supri-online.com Powered by Joomla! Generated: 21 October, 2009, 12:14
Sementara
dinamika rilisan kaset menggila, begitu juga dengan zine dan media.
Zine kedua setelah Revogram adalah Ujungberung Update. Mereka yang
berada di balik Ujungberung Update adalah Addy Gembel, Amenk, dan Sule.
Merekalah yang kemudian membuat istilah tren saat itu : Gogon,
singkatan dari Gosip-gosip Underground. Setelah Ujungberung Update,
kemudian lahir Crypt from the Abyss yang diasuh oleh Opick Dead,
gitaris Sacrilegious saat itu, Loud n’ Freaks yang diasuh oleh Toto,
penabuh drum Burgerkill, dan The Evening Sun yang diasuh Dandan sang
drummer Jasad. Belakangan, tahun 2000an, Toto bersinergi dengan Eben
membuat zine NuNoise, salah satu zine progresif yang mengkover
pergerakan musik termutakhir. Zine lainnya yang fenomenal dan terus
bergerak hingga kini adalah Rottrevore yang diasuh oleh
Rio
serta Ferly, gitaris Jasad, merupakan media propaganda musik metal.
Belakangan, Rottrevore berkembang menjadi perusahaan rekaman khusus
musik metal. Rottrevore dimiliki grinder
Jakarta,
Rio, tapi dikelola oleh anak-anak Ujungberung Rebels.

Achievements & Events
Baby
Riots adalah sebutan anak-anak Ujungberung Rebels bagi pasukan tempur
bentukan Butchex, pentolan band The Cruels dan Mesin Tempur. Awalnya,
karena perkembangan Ujungberung Rebels yang semakin pesat secara
kualitas maupun kuantitas maka mulai terasa konflik dan gesekan dengan
masyarakat sekitar. Ujungberung yang berkultur indsutri dan merupakan
daerah peralihan yang gantel—kampung bukan, kotapun bukan—melahirkan
banyak juga komunitas lain yang serba tanggung dan kemudian lazim kita
namakan preman. Mereka kurang senang melihat anak-anak Ujungberung
dengan segala totalitasnya, wara-wiri di jalanan mulai dari Pasar
Ujungberung hingga jl. Rumah Sakit. Bentrokan dengan preman-preman pun
mulai terjadi. Awalnya hanya hangat-hangat tahi ayam, namun ketika
semakin kompleks dan merambah ke kekerasan dan perkelahian, maka
Ujungberung Rebels merasa harus membuat pasukan sendiri yang di
dalamnya terdiri dati mesin-mesin tempur berdaya ledak tinggi. Maka
terbentuklah Baby Riots. Baby Riots tak lantas hanya berperan sebatas
mesin tempur. Mereka juga ngeband dan banyak menghasilkan karya-karya.
Band-band punk Ujungberung asuhan The Cruels adalah beberapa di
antaranya selain juga metalhead-metalhead muda yang gejolaknya selalu
membara. Musikalitas dan attitude mereka juga tak diragukan lagi.
Musikalitas
pula, serta berbagai pencapaian mereka, yang semakin mengokohkan
eksistensi anak-anak Ujungberung Rebels. Berbagai rekaman dirilis di
komunitas ini dan mewarnai dinamika pergerakan msik metal bawahtanah di
Indonesia.
Beberapa band sempat dirilis di luar negeri seperti Jasad yang dirilis
di Amerika dan Forgotten di Jerman dan Eropa Timur. Pencapaian
fenomenal lainnya jelas diraih Burgerkill yang kemudian menjebol label
besar, Sony Music Indonesia untuk kontrak enam album, sekaligus
mendapatkan penghargaan prestisius di bidang musik dalam ajang Anugerah
Musik Indonesia 2004 dengan menyabet kategori Best Metal Production untuk albumnya Berkarat.
Belakangan, Burgerkill meninggalkan label besar mereka setelah merasa
tak bisa lagi jalan bersama. Ini pula yang menjadi titik lahirnya label
Revolt! Records yang menaungi album ketiga Burgerkill, Beyond Coma and Despair.
Album ini sangat sukses dan fenomenal dalam pencapaian Burgerkill, dan
jelas komunitas Ujungberung Rebels. Berbagai kritik positif dan
penghargaan datang menyambut album ini. Terakhir, Beyond… dinobatkan majalah Rolling Stone sebagai salah satu dari
150 album sepanjang masa di
:: supri-online.com - Music and Photography Journal ::
http://www.supri-online.com Powered by Joomla! Generated: 21 October, 2009, 12:14
Indonesia.
Dan Burgerkill memang layak mendapatkan itu, setelah sebelumnya mereka
membayar dengan harga yang sangat tak terhingga mahal : meninggalnya
sang vokalis, Scumbag Begundal Hardcore Ugal-ugalan.
Kuatnya
para musisi Ujungberung dalam memegang prinsip membuat komunitas ini
tetap hidup dan dinamis hingga sekarang. Idealisme itu kemudian mereka
manifestasikan dalam pergelaran-pergelaran musik yang mereka garap
sendiri dan pada akhirnya membuaka ruang juga untuk musisi-musisi di
luar Ujungberung untuk ikut berpartisipasi dalam dinamika Ujungberung
Rebels. Tiga pergelaran musik yang khas Ujungberung Rebels selain event
legendaries Bandung Berisik, adalah Rebel Fest, Rottrevore Death Fest
dan Death Fest. Yang menarik, dari pergelaran ini adalah fakta bahwa
pergelaran menjadi salah satu ajang regenerasi komunitas Ujungberung
Rebels. Selain itu, anak-anak Ujungberung menajdikan pergelaran mereka
sebagai ajang mempertunjukan kesenian tradisional sebagai pembuka atau
penutup acara. Salah satunya adalah kesenian debus yang ditanggap
anak-anak Ujungberung di ajang Death Fest II tahun 2007. Yang paling
mengagumkan dari pergelaran yang digelar anak-anak Ujungberung adalah
prestasi mereka mengumpulkan 25.000 penonton dalam acara Bandung
Berisik IV di Stadion Persib,
Bandung tahun 2004. Pencapaian ini diklaim memecahkan rekor pergelaran musik bawahtanah terbesar se-Asia oleh
majalah Time Asia.

Ekonomi Kreatif Ujungberung Rebels
Dinamika
pergerakan Ujungberung Rebels semakin menggurita saja dari hari ke
hari. Kini setidaknya ada tiga lahan garapan ekonomi kreatif yang
berkembang di komunitas Ujungberung Rebels, yaitu fesyen, rekaman, dan
literasi. Yang paling subur adalah indsutri fesyen. Setidaknya ada enam
industri fesyen yang digagas para pentolan Ujungberung Rebels, mulai
dari Media Graphic dan distro Chronic Rock yang dijalankan Eben,
Distribute yang dijalankan Pey, Reek yang dijalankan Ferly dan Man,
Melted yang dijalankan Amenk dan Andris, CV Mus yang dijalankan Mbie,
serta Scumbag Premium Throath yang ini diteruskan Erick sepeninggal
Ivan.
Di bidang industri rekaman, Ujungberung memiliki dua perusahaan rekaman yang sangat dinamis, Rottrevore Records
yang dijalankan
Rio
dan Ferly serta Revolt! Records yang dijalankan Eben. Rottrevore bahkan
memiliki media literasi berupa majalah metal kencang bernama Rottrevore
Magazine. Pentolan Ujungberung lainnya yang aktif di dunia literasi
adalah Iit dengan toko buku Omuniuum-nya serta Kimung dengan zine
MinorBacaanKecil dan penerbitan Minor Books yang menerbitkan biografi
Ivan, Myself : Scumbag Beyond Life and Death, sebuah buku fenomenal, bagian dari trilogi sejarah Ujungberung Rebels
dan Bandung Underground.
Tentu
selain tiga lahan garapan tersebut masih banyak yang lainnya seperti
bisnis warnet yang dikelola Kudung atau toko musik atau sentra kuliner.
Semua lahan garapan pentolan-pentolan anak-anak Ujungberung Rebels
tersebut jelas membuka lebar perbaikan perekonomian minimal di kalangan
internal Ujungberung Rebels sendiri, maksimal ya…mungkin membayarkan
hutang
Indonesia raya yang bejibun itu.
Segala
pencapaian itu tak datang dengan sendirinya. Segala datang bersama daya
konsistensi yang sangat tinggi dan idealisme yang teguh digenggam satu
tangan, sementara tangan yang lain menghajar jalanan dengan senjata
kreativitas. Tapi kunci dari segalanya adalah keteguhan prinsip. Panceg dina jalur,
tidak gamang menghadapi perubahan. Membaca segala perubahan sebagai
kulit saja bukan sebuah inti, sehingga ketika harus menyesuaikan diri
:: supri-online.com - Music and Photography Journal ::
http://www.supri-online.com Powered by Joomla! Generated: 21 October, 2009, 12:14
dengan perubahan tak lantas kehilangan diri tenggelam dalam euforia di
permukaan.
Segala
pencapaian itu juga harus dikelola dengan sinergi yang positif di
antara lahan-lahan garapan kreativitas sehingga akan terus berkembang
dan pada gilirannya menyumbangkan hal positif bagi masyarakat
kebanyakan. Sebuah sentra bisnis dan pusat pengembangan budaya di
Ujungberung pasti akan menjadi wadah yang menampung segala aspirasi dan
hasil kreativitas mereka menuju totalitas yang paling maksimal. Mininal
gedung konser yang di dalamnya terdapat juga youth center, dan pusat
dokumentasi dan pengembangan riset sosial budaya yang memadai.
Berangan-angan? Tidak juga! Panceg dina jalur!


Penulis adalah editor MinorBacaanKecil
:: supri-online.com - Music and Photography Journal ::
Tetap Mengusung Semangat UjungBerung
Posted by Jejak on Feb 23, '09 8:52 PM for everyone
Burgerkill adalah band metal superkeras dari Ujungberung pertama yang pentas di luar negeri. Sudah sukses, namun tetap menolak kemapanan.
_____________________________________________________________________________
Everything turns so disgust when i stayed at home No more shelter or anything called salvation Away from home prove i’m the real scumbag So i begin to hate arrogant people around me Cross the line.. Revolt ! It’s time to.. Revolt !
Kata-kata itu dirapal garang, kadang diteriakkan dengan suara seperti geraman dari dasar perut, growling. Alat musik yang mengiringinya—drum, gitar bas, dan gitar—mende­ru keras, berpacu kencang bak kereta api ekspres. Begitulah bila Burgerkill mem­bawakan Revolt!, yang dianggap sebagai ”lagu kebangsaan”-nya. Bila lagu ini dibawakan di setiap pentas, kerumunan penonton pun siap meneriakkan ”revolt” dengan keras, menderu.
Dengan mengusung lagu beraliran metal hardcore seperti Revolt!, grup band yang merupakan bagian dari band indie (independen) Tanah Air ini melakukan tur ke Perth, Australia. Tur bertema The Invasion of Noise itu dimulai sejak Jumat pekan lalu hingga awal Maret ini. Pentas di Aussy—di lima kota Australia Barat dengan tujuh kali tampil—menjadikan band beranggotakan Ebenz, Vicki, Andris, Ramdan, dan Agung itu sebagai band Ujungberung pertama yang show di luar negeri.
Tentu saja, pertunjukan tersebut­ dianggap sebagai prestasi. Menurut­ ­Ebenz, yang bernama asli Ariestanto, perjalanan ke Perth ini merupakan bagian dari pencapaian album keempat mereka—sekaligus terbaru—Beyond Coma and Despair. Album yang dirilis pada Agustus 2006 itu membawa Burgerkill ke tahapan lebih ”dewasa”. Menurut beberapa media yang meresensi album tersebut, musikalitas Burgerkill makin mantap—bukan sekadar garang, sangar, dan marah.
Album ini juga menjadi titik pijak baru Burgerkill. Karena perjalanan me­reka seterusnya tanpa Ivan Firman­syah, vokalis sekaligus salah satu pen­diri band ini. Pria yang menjuluki diri­nya sebagai Scumbag—orang tak bermo­ral yang tak berguna—ini mangkat di usia 28 tahun akibat radang otak, pada 27 Juni 2006. Kepergian Ivan tidak membuat Burgerkill bubar, walau mereka sempat gusar mencari pengganti Ivan. Seperti kata Ebenz, ”Kalau tidak ada kesulitan, hidup ini tidak menarik.” Band ini pun mencari penyanyi baru, hingga terpilih Yupi Yupiki alias Vicki.
Sebenarnya, perjalanan band yang berdiri sejak Mei 1996 ini sama sekali tak mudah. ”It’s f****** hard,” kata Ebenz mengomentari jalan hidup dia, band-nya, dan teman-teman ”seperjuangan sepemberontakannya”. Kisah mereka—terutama Ivan—ditulis Iman Rahman Anggakusumah, alias Kimung, dalam buku My Self: Scumbag. Kimung, yang pernah menjadi per­sonel awal Burgerkill ini, menuliskan bahwa romantika Burgerkill tak dapat di­pisahkan dari Ujungberung.
Ya, semuanya memang bermula dari kota kecamatan seluas sekitar 1.000 hektare di Bandung bagian paling timur itu. Kawasan yang terletak pada ketinggian 660 meter di atas permukaan laut itu semula merupakan daerah pertanian. Selain itu, Ujungberung dikenal sebagai pusat kesenian Sunda tradisional seperti bela diri benjang, angklung, dan kecapi suling. Menurut Kimung, yang pernah tinggal di Ujungberung, penduduk di sana memang sangat terbuka terhadap pengaruh ke­senian dari luar. ”Inilah mungkin yang membuat anak-anak muda di tempat itu menerima musik rock dan metal,” kata Kimung, yang kini sedang menulis buku tentang sejarah kontemporer Ujungberung itu.
Karena terbuka pada pengaruh luar itulah, anak-anak muda Ujungberung mulai menikmati musik cadas keras seperti Metallica, Guns ‘n Roses, Iron Maiden, pada era 1980-an. Namun, memasuki 1990-an, remaja Ujungberung yang menamakan diri sebagai Ujungberung Rebels memiliki selera musik yang lebih keras. Mereka memainkan lagu-lagu Sepultura, Napalm Death, Terrorizer.
”Anak-anak seusia saya lalu mulai mempertanyakan banyak hal,” kisah Kimung. Mengapa kampung mereka berubah dari daerah pertanian menjadi kawasan industri. Mereka juga menggugat konsep ketuhanan dan keagamaan, dan mempertanyakan kenapa harus mengaji. Hal-hal demikian dipertanyakan oleh Kimung, Ivan, dan teman-temannya. Namun mereka tak menemukan jawabannya di sekolah ataupun dari orang tuanya di rumah.
”Kami juga memberontak untuk hal-hal kecil seperti potongan rambut sekolah,” kata Kimung. Yang dilarang adalah rambut gondrong sampai menyentuh kerah baju. Nah, waktu itu Kimung mengecat rambutnya, tapi tidak gondrong. Dan semua ketidakpuasan itu ber­padu dengan kege­maran pada musik me­tal superkeras. Masih ditambah dengan—istilah Kimung—kenakal­an dan ke­inginan coba-coba ganja, segala je­nis obat, dan menenggak minuman keras. Klop!
Dari situlah, anak-anak muda ini lebih suka belajar dari jalanan—termasuk nongkrong hingga tidur di pinggir jalan. Kumpul-kumpul itu juga menghasilkan grup musik aliran metal hardcore seperti Jasad, Sonic Torment, Sacrilegious, juga Burgerkill. Berdirinya studio rekaman Palapa pada 1993 membuat anak-anak metal bawah tanah menjadi makin solid. Mereka membentuk perkumpulan Extreme Noise Grinding (ENG) pada 1995, yang menjadi bibit dinamika Ujungbe­rung Rebels.
Mulailah mereka bergerak kreatif, seperti membuat zine—media independen, dipublikasi sendiri, biasanya oleh kalangan minoritas dengan distribusi terbatas, serta non-profit—Revograms. Zine ini digunakan sebagai tempat berbagi oleh komunitas musik underground. Debut ini dilanjutkan dengan tampil di panggung yang dikenal sebagai Bandung Berisik I, yang menampilkan 15 band Ujungberung ditambah satu band Jakarta, Insanity. Pergelaran pertama itu disusul yang selanjutnya, yaitu Death Fest, Rottrevore Death Fest, dan Rebel Fest.
Mereka kemudian membuat kompilasi yang memuat 16 band metal Ujungberung, berjudul ”Ujungberung Re­bels”. Perusahaan Musica kemudian merilis­ kompilasi tersebut dengan judul ”Independen Rebel”. Nilai transaksinya ketika itu (1998) Rp 14 juta. Uang inilah yang digunakan untuk modal mereka membuat berbagai usaha seperti clothing sesuai dengan band mereka.
O ya, masih ada kelompok bernama Homeless Crew. Mereka adalah kru yang membantu dalam setiap pergelaran musik, namun mereka sekaligus pemain band-nya. Ivanlah yang memberi nama Homeless Crew ini, yang sampai saat ini diartikan sebagai prinsip anak-anak muda Ujungberung yang menolak ”berumah”, atau menolak kema­panan dan kenyamanan yang meninabo­bo­kan.
Di antara iklim seperti itulah Bur­gerkill tumbuh. Mulai dari masa sering manggung di Jakarta pada 1995, lalu mem­buat single pertama, yaitu Revolt!—menjadi lagu pembuka kompilasi berjudul ”Masaindahbangetse­kalipisan”, yang dirilis pada 1997. Hingga Burgerkill menghasilkan album pertamanya, Dua Sisi, pada 2000, yang direkam perusahaan indie, Riotic Records.
Burgerkill juga pernah mencicipi dikontrak major label, Sony Music Indonesia. Album Berkarat (2003) dan Dua Sisi Repacked (2004) keluar di bawah label Sony. Namun album berikutnya, Beyond Coma and Despair, Burgerkill kembali ke indie, yaitu direkam perusahaan mereka sendiri: Revolt! Records. ”Jalan-jalan dulu, lalu kembali ke indie,” kata Ebenz.
Darah Burgerkill adalah indie. Sebelum berangkat ke Australia, kelompok ini mengadakan pertunjukan untuk mengumpulkan uang saku. Mereka selain menjual tiket juga barang-barang edisi terbatas. Misalnya, gitar bas Burgerkill lengkap dengan tanda tangan pemain band terjual Rp 6,5 juta kepada Ridwan Kamil, arsitek dari Bandung. Poster raksasa band ini jatuh ke tangan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Jusuf dengan harga Rp 10 juta. Hingga akhirnya terkumpul sekitar Rp 48 juta dalam pertunjukan di Hyatt Regency Hotel, Bandung, 4 Februari lalu.
Hingga kini lirik lagu Burgerkill memang tetap menyerukan kemarahan—termasuk pada diri sendiri—dan ketidakpuasan terhadap sekitarnya. Aliran musiknya, menurut ­Ebenz, tetap terbuka pada pengaruh lain. Namun, dalam bermusik dan berbisnis, patokan mereka adalah menolak didikte pemilik modal. ”Yang pasti, kini industri besar makin kesulitan menembus kami. Komunitas independen makin pintar,” tandas Ebenz.
Bina Bektiati
Majalah Tempo
01/XXXVIII 23 Februari 2009
Tags:
Prev: Erros, Cinta, dan SeriosaNext: Opus 78

Senin, 19 Oktober 2009

ujungberung rebels

Ujungberung Rebels, Sebuah Fenomena



Oleh Kimung

Dalam setiap wawancara, Bebi, penabuh drum Beside, selalu menyebutkan jika mereka adalah band kecil dan tidak menyangka akan memiliki massa lebih dari 1.000 penggemar. Satu yang Bebi lupa, Beside adalah salah satu band yang tumbuh di komunitas metal tertua, sekaligus paling bertahan di Bandung atau mungkin di Indonesia, Ujungberung Rebels.

Ujungberung 1990

Tak jelas kapan rock/metal masuk ke Ujungberung. Agaknya, sejak booming heavy metal di Indonesia pertengahan tahun 1980-an, Ujungberung tak ketinggalan tren ini. Dalam kondisi yang sangat terbatas, beberapa gelintir kaum muda Ujungberung membentuk band dan memainkan lagu-lagu band rock favorit mereka.

Kang Koeple (kakak Yayat-produser Burgerkill) dan Kang Bey (kakak Dani-Jasad) bisa disebutkan sebagai generasi awal. Pertengahan 1980-an hingga awal 1990-an, mereka memainkan lagu rock semacam Deep Purple, Led Zeppelin, Queen, dan Iron Maiden selain menciptakan lagu sendiri.

Pada era ini, kultur panggung yang sedang berkembang luas adalah kultur festival. Band tanding di sebuah festival musik dan yang menang dihadiahi dapur rekaman. Rudal Rock Band adalah band ikon zaman ini. Penonton selalu tercengang jika menyaksikan band ini di atas pentas.

Ketercengangan itu juga yang menginspirasi generasi adik-adik Kang Koeple dan Kang Bey untuk mendirikan band. Tahun 1991 di Ujungberung lahir band ikon awal Ujugberung Rebels, Funeral yang digawangi Iput, Uwo, Agus, dan Aam. Mereka memainkan lagu-lagu Sepultura, Napalm Death, Terrorizer. Tak lama setelah Funeral, lahir Necromancy yang dibidani Dinan, Oje, Punky, Boy. Mereka memainkan lagu-lagu Carcass dan Megadeth. Dua band ini bermarkas di sebelah barat Ujungberung, tepatnya di kawasan Taruna Parahyangan, Sukaasih.

Di pusat kota Ujungberung, berdiri Orthodox yang membawakan nomor-nomor dari Sepultura dan digawangi Yayat, Dani, Agus, dan Andris. Sementara itu, di Ujungberung sebelah timur, kawasan Tirtawening, Cilengkrang I, berdiri Jasad (Yulli, Tito, Hendrik, Ayi).

Di kawasan Manglayang, Cilengkrang II berdiri band metal Monster dengan motor gitaris Ikin, didukung Yadi, Abo, Yordan, Kenco, dan Kimung. Mereka membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri, berkiblat ke musik heavy dan thrash metal.

Faktor teknologi komunikasi berperan besar dalam mempersatukan band-band ini. Masa itu teknologi komunikasi yang berkembang adalah "radio 2 meteran" atau sering disebut brik-brikan. Dinan (Necromancy) kenal dengan Uwo-Agus (Funeral) dari jamming brik-brikan. Pun di kawasan Manglayang, para personel Monster adalah para pecandu brik-brikan. Mereka berbincang, saling tukar informasi, dan akhirnya bertemu, membuat band, dan membangun komunitas.

Faktor kawan sesekolah juga menjadi stimulan terbentuknya sebuah band. SMP 1 Ujungberung--kini SMP 8 Bandung--menyumbangkan Toxic (Addy-Ferly-Cecep-Kudung) yang merupakan cikal bakal dari Forgotten.

Band anak-anak SMP ini berdiri sekitar tahun 1991 atau 1992. Selain SMP Ujungberung, SMA Ujungberung (kini SMA 24 Bandung) dan SMA KP 2 adalah penyumbang utama musisi muda yang kelak menjadi generasi pendobrak Ujungberung Rebels.

Era ini juga ditandai dengan adanya Radio Salam Rama Dwihasta yang memiliki program memutarkan musik-musik metal. Nama programnya "Bedebah", singkatan dari Bandung Death Metal Area. Ketika permetalan saat itu didominasi heavy metal, "Bedebah" sudah menggeber gelombang dengan Napalm Death, Carcass, Terrorrizer, Morbid Angel. Dua penyiarnya adalah Agung dan Dinan, dan kabarnya mereka masih berseragam putih abu saat itu. Di balik usia belia mereka, terdapat semangat pionir dalam upaya menyebarkan musik metal di Ujungberung dan Bandung.

"Homeless crew"

Kultur festival yang dirasa kurang bersahabat karena begitu banyak syarat dalam berekspresi, membuat gerah segelintir musisi muda. Akhir tahun 1993, muncul kekuatan baru dari Ujungberung, ditandai dengan berdirinya Studio Palapa. Studio ini segera menjadi kawah candradimuka band-band Ujungberung hingga melahirkan band-band besar, kru-kru yang solid, dan musisi-musisi jempolan. Studio Palapa juga yang kemudian melahirkan rilisan-rilisan kaset pertama di Indonesia.

Mereka merekam lagu-lagu dengan biaya sendiri, mendistribusikan sendiri, melakukan semua dengan semangat do it yourself. Dari 10 band independen di Indonesia yang tercatat majalah Hai tahun 1995, tiga di antaranya berasal dari Ujungberung. Mereka adalah Sonic Torment, Jasad, dan Sacrilegious. Label dan perusahaan rekaman yang mereka kibarkan adalah Palapa Records.

Tahun 1995, di Ujungberung berdiri sebuah perkumpulan anak-anak metal bawah tanah yang menamakan diri sebagai Extreme Noise Grinding (ENG). ENG digagas antara lainYayat dan Dinan sebagai wadah kreativitas anak-anak Ujungberung. Propaganda awal mereka adalah membuat sebuah media sharing antar dan inter komunitas musik metal bawah tanah berbentuk zine dengan nama Revograms. Zine ini disebut-sebut sebagai zine pertama di komunitas musik bawah tanah dan juga komunitas independen Indonesia.

Revogram digagas Dinan dan dilaksanakan tim redaksi Revogram beranggotakan Ivan, Kimung, Yayat, Dandan, Sule, Gatot. Propaganda selanjutnya adalah membuat acara musik Bandung Berisik Demo Tour yang lalu dikenal sebagai Bandung Berisik I. Di acara ini lima belas band Ujungberung unjuk gigi, ditambah bintang tamu Insanity dari Jakarta.

Setelah Bandung Berisik, dibuat kompilasi band-band Ujungberung. Kompilasi tersebut memuat 16 band metal Ujungberung dan bertajuk Ujungberung Rebels. Kompilasi ini dirilis Musica dengan judul Independen Rebels dengan nilai transaksi Rp 14 juta tahun 1998. Namun demikian, nama Ujungberung Rebels tak lantas pudar. Nama ini lalu lekat erat menjadi identitas komunitas musik metal bawah tanah Ujungberung, berdampingan dengan nama Homeless Crew yang merujuk pada gaya hidup musisi Ujungberung yang hidup di jalanan dan bohemian.

Keuntungan kompilasi Independen Rebels dijadikan modal mendirikan Rebellion, sebuah distro yang menampung kreativitas masyarakat musik bawah tanah oleh Yayat selaku produser. Rebellion belakangan bersinergi dengan Pisces Studio, sebuah studio yang dikelola Dandan setelah pengelola Studio Palapa menjual alat-alat band kepadanya tahun 1997.

Dinamika itu juga ditunjang dengan rilisnya berbagai zine, seperti Ujungberung Update yang khusus mengetengahkan kabar-kabar terbaru komunitas musik metal bawah tanah Ujungberung, Bandung, dan dunia. Setelah Ujungberung Update, lahir Crypt from the Abyss yang diasuh oleh Opick Dead, gitaris Sacrilegious yang khusus memuat kabar dari musik black metal, Loud n` Freaks yang diasuh oleh Toto yang khusus memuat kabar dari scene hardcore dan punk rock, serta The Evening Sun yang diasuh Dandan sang drummer Jasad yang menyuguhkan kabar-kabar mengenai scene music gothic-metal.

Zine yang terus bergerak hingga kini adalah Rottrevore yang diasuh oleh Rio serta Ferly, gitaris Jasad. Zine ini merupakan media propaganda musik metal. Belakangan, Rottrevore berkembang menjadi perusahaan rekaman khusus musik metal. Rottrevore dimiliki grinder Jakarta, Rio, tapi dikelola oleh anak-anak Ujungberung Rebels. Saat itu, komunitas Ujungberung Rebels berkembang semakin besar.

Tempaan para pionir kepada komunitasnya tak kenal henti. Mereka juga membina kru yang terdiri dari teknisi, engineer, hingga semacam "pasukan tempur" khusus yang berani memasang badan jika terjadi bentrokan dengan preman-preman. "Pasukan tempur" itu dinamakan Baby Riots dan dipimpin oleh Butchex, vokalis band The Cruels. Belakangan, setelah situasi semakin kondusif, Baby Riots diarahkan menjadi kru yang khusus menangani masalah keamanan event-event yang digelar Ujungberung Rebels.

"Achievements dan Events"

Didukung kru yang solid, musikalitas para musisi Ujungberung semakin tak terbendung. Berbagai rekaman dirilis di komunitas ini dan mewarnai dinamika pergerakan musik metal bawah tanah di Indonesia. Beberapa band sempat dirilis di luar negeri, seperti Jasad yang dirilis di Amerika dan Forgotten di Jerman dan Eropa Timur.

Pencapaian fenomenal lainnya jelas diraih Burgerkill yang kemudian menjebol label besar, Sony Music Indonesia untuk kontrak enam album, sekaligus mendapatkan penghargaan prestisius di bidang musik dalam ajang Anugerah Musik Indonesia 2004 dengan menyabet kategori Best Metal Production untuk albumnya "Berkarat". Belakangan, Burgerkill meninggalkan label besar mereka setelah merasa tak bisa lagi jalan bersama.

Ini pula yang menjadi titik lahirnya label Revolt! Records yang menaungi album ketiga Burgerkill, "Beyond Coma and Despair". Album ini sangat sukses dan fenomenal dalam pencapaian Burgerkill dan jelas komunitas Ujungberung Rebels. Berbagai kritik positif dan penghargaan datang menyambut album ini. Terakhir, "Beyond Coma and Despair" dinobatkan majalah Rolling Stone sebagai salah satu dari 150 album sepanjang masa di Indonesia. Burgerkill memang layak mendapatkan itu, setelah sebelumnya mereka membayar dengan harga yang tak terhingga, meninggalnya sang vokalis, Ivan Scumbag.

Kuatnya para musisi Ujungberung dalam memegang prinsip membuat komunitas ini tetap hidup dan dinamis hingga sekarang. Idealisme itu kemudian mereka manifestasikan dalam pergelaran-pergelaran musik yang mereka garap sendiri dan pada akhirnya membuaka ruang juga untuk musisi-musisi di luar Ujungberung untuk ikut berpartisipasi dalam dinamika Ujungberung Rebels.

Tiga pergelaran musik yang khas Ujungberung Rebels selain event legendaris Bandung Berisik, adalah Rebel Fest, Rottrevore Death Fest, dan Death Fest. Yang menarik, dari pergelaran ini adalah fakta bahwa pergelaran menjadi salah satu ajang regenerasi komunitas Ujungberung Rebels.

Selain itu, anak-anak Ujungberung menjadikan pergelaran mereka sebagai ajang mempertunjukan kesenian tradisional sebagai pembuka atau penutup acara. Salah satunya adalah kesenian debus yang ditanggap anak-anak Ujungberung di ajang Death Fest II tahun 2007 ketika mereka bersinergi dengan komunitas Sunda Underground. Yang paling mengagumkan dari pergelaran yang digelar anak-anak Ujungberung adalah prestasi mereka mengumpulkan 25.000 penonton dalam acara Bandung Berisik IV di Stadion Persib, Bandung tahun 2004. Pencapaian ini diklaim memecahkan rekor pergelaran musik bawah tanah terbesar se-Asia oleh majalah Time Asia.

Ekonomi kreatif

Dinamika pergerakan Ujungberung Rebels merambah juga sektor perekonomian. Kini, setidaknya ada tiga lahan garapan ekonomi kreatif yang berkembang di komunitas Ujungberung Rebels, yaitu fashion, rekaman, dan literasi. Setidaknya ada enam industri fashion yang digagas para pentolan Ujungberung Rebels, mulai dari Media Graph dan distro Chronic Rock yang dijalankan Eben, Distribute yang dijalankan Pey, Reek yang dijalankan Ferly dan Man, Melted yang dijalankan Amenk dan Andris, CV Mus yang dijalankan Mbie, serta Scumbag Premium Throath.

Di industri rekaman, Ujungberung memiliki dua perusahaan rekaman, Rottrevore Records yang dijalankan Rio dan Ferly serta Revolt! Records yang dijalankan Eben. Sementara itu, di dunia literasi ada Iit dengan toko buku Omuniuum-nya serta Kimung dengan zine MinorBacaanKecil dan penerbitan Minor Books yang menerbitkan biografi Ivan, Myself: Scumbag Beyond Life and Death, sebuah buku fenomenal, bagian dari trilogi sejarah Ujungberung Rebels dan Bandung Underground.

Tentu selain tiga lahan garapan tersebut masih banyak yang lainnya seperti bisnis warnet, toko musik, dan sentra kuliner. Semua lahan garapan pentolan-pentolan anak-anak Ujungberung Rebels tersebut jelas membuka lebar perbaikan perekonomian minimal di kalangan internal komunitas Ujungberung Rebels.

Segala pencapaian itu tak datang dengan sendirinya. Daya konsistensi yang tinggi dan idealisme yang teguh digenggam satu tangan, sementara tangan yang lain menghajar jalanan dengan senjata kreativitas adalah kuncinya. Di atas segalanya, keteguhan prinsip, panceg dina jalur, tidak gamang menghadapi perubahan juga berperan sangat dalam. Segala pencapaian itu harus dikelola dengan sinergi yang positif di antara lahan-lahan garapan kreativitas sehingga akan terus berkembang dan pada gilirannya menyumbangkan hal positif bagi masyarakat kebanyakan. Sebuah sentra bisnis dan pusat pengembangan budaya di Ujungberung pasti akan menjadi wadah yang menampung segala aspirasi dan hasil kreativitas mereka menuju totalitas yang paling maksimal.

Minimal gedung konser yang di dalamnya terdapat juga youth center, dan pusat dokumentasi dan pengembangan riset sosial budaya yang memadai. Berangan-angan? Tidak juga! Panceg dina jalur!